Pertumbuhan kendaraan listrik di Indonesia dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan tren yang sangat positif. Data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mencatat jumlah kendaraan listrik telah mencapai sekitar 358 ribu unit hingga awal 2026.
Kenaikan ini bahkan mencapai sekitar 140 ribu unit dalam satu tahun terakhir. Lonjakan tersebut didominasi oleh kendaraan roda dua yang lebih cepat diadopsi masyarakat karena harga relatif terjangkau dan cocok untuk mobilitas harian.
Namun di balik pertumbuhan ini, muncul fakta yang cukup kontras: peningkatan jumlah kendaraan listrik belum diikuti penurunan signifikan pada impor bahan bakar minyak (BBM).
Impor BBM Masih Tinggi
Meski elektrifikasi kendaraan terus didorong, Indonesia masih bergantung pada impor BBM dalam jumlah besar. Bahkan, dalam periode beberapa tahun terakhir, nilai impor justru terus meningkat.
Tercatat, pada 2025 saja, nilai impor BBM mencapai sekitar US$ 21,5 miliar. Angka ini menunjukkan bahwa kebutuhan energi berbasis fosil di dalam negeri masih sangat tinggi dan belum tergantikan oleh energi listrik secara signifikan.
Kondisi ini menjadi tantangan besar bagi pemerintah yang tengah mendorong transisi energi menuju sumber yang lebih bersih dan berkelanjutan.
EV Masih Jadi Kendaraan Kedua
Salah satu faktor utama yang menyebabkan impor BBM belum turun adalah pola penggunaan kendaraan listrik yang belum optimal. Banyak masyarakat yang membeli kendaraan listrik hanya sebagai kendaraan tambahan, bukan sebagai alat transportasi utama.
Pengamat ekonomi dari INDEF, Andry Satrio Nugroho, menyebut bahwa fenomena ini menjadi pekerjaan rumah besar. Selama kendaraan listrik belum menjadi pilihan utama, konsumsi BBM akan tetap tinggi.
Artinya, meski seseorang sudah memiliki motor atau mobil listrik, mereka tetap menggunakan kendaraan berbahan bakar bensin untuk aktivitas tertentu, seperti perjalanan jauh atau kebutuhan khusus lainnya.
Tantangan Harga dan Pembiayaan
Selain faktor penggunaan, harga kendaraan listrik yang masih relatif tinggi juga menjadi hambatan. Walaupun biaya operasionalnya lebih murah, harga awal yang tinggi membuat sebagian masyarakat masih ragu untuk beralih sepenuhnya.
Di sisi lain, skema pembiayaan kendaraan listrik juga belum sekompetitif kendaraan konvensional. Perbankan masih melihat EV sebagai produk dengan risiko lebih tinggi, sehingga bunga kredit cenderung lebih mahal.
Akibatnya, konsumen lebih memilih kendaraan berbahan bakar fosil yang lebih mudah diakses dari sisi finansial.
Kekhawatiran Teknis dan Infrastruktur
Faktor lain yang tak kalah penting adalah kekhawatiran teknis. Sebagian masyarakat masih meragukan performa kendaraan listrik, mulai dari daya tahan baterai, kemampuan di medan tertentu, hingga keamanan saat kondisi ekstrem seperti banjir.
Selain itu, infrastruktur pendukung seperti stasiun pengisian kendaraan listrik umum (SPKLU) belum merata di seluruh wilayah Indonesia. Hal ini membuat kendaraan listrik belum sepenuhnya praktis untuk digunakan sebagai kendaraan utama, terutama di luar kota besar.
Upaya Pemerintah dan Harapan ke Depan
Pemerintah sendiri terus mendorong percepatan adopsi kendaraan listrik melalui berbagai kebijakan, termasuk rencana pemberian subsidi dan insentif. Langkah ini diharapkan dapat mempercepat transisi energi sekaligus menekan ketergantungan terhadap impor BBM.
Bahkan, pemerintah menargetkan dalam beberapa tahun ke depan Indonesia bisa mengurangi hingga menghentikan impor BBM melalui elektrifikasi dan pengembangan energi alternatif.
Namun, para ahli menilai bahwa proses ini membutuhkan waktu. Transisi dari kendaraan berbahan bakar fosil ke kendaraan listrik tidak bisa terjadi secara instan, mengingat jumlah kendaraan konvensional yang masih sangat besar.
Transisi Energi Masih Panjang
Fenomena meningkatnya kendaraan listrik namun impor BBM tetap tinggi menunjukkan bahwa Indonesia masih berada di tahap awal transisi energi.
Agar dampaknya terasa signifikan, kendaraan listrik perlu menjadi pilihan utama masyarakat, didukung oleh harga yang lebih terjangkau, pembiayaan yang mudah, serta infrastruktur yang merata.
Jika berbagai tantangan ini bisa diatasi, maka ke depan peningkatan kendaraan listrik tidak hanya menjadi tren, tetapi juga solusi nyata dalam mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor BBM.





