Roda Percepatan Kendaraan Listrik Terhambat Ketidakpastian Subsidi: Moeldoko Angkat Bicara

Sutrisno Wibowo

Perjalanan Indonesia menuju ekosistem kendaraan listrik (EV) yang masif menghadapi tantangan signifikan akibat inkonsistensi kebijakan insentif dari pemerintah. Moeldoko, Ketua Umum Perkumpulan Industri Kendaraan Listrik Indonesia (Periklindo), menyuarakan keprihatinan mendalam terhadap fluktuasi regulasi yang justru menghambat geliat pasar otomotif berbasis baterai. Perubahan kebijakan yang serampangan ini, menurutnya, menciptakan keraguan di kalangan konsumen dan pelaku industri, yang berujung pada penundaan pembelian dan investasi.

Dalam sebuah kesempatan yang bertepatan dengan peluncuran Periklindo Electric Vehicle Show (PEVS) 2026 di Jakarta, Moeldoko secara gamblang menyampaikan bahwa ketidakjelasan aturan subsidi telah melumpuhkan aktivitas penjualan di tingkat diler. Calon pembeli, yang awalnya antusias menyambut era kendaraan ramah lingkungan, kini memilih bersabar sembari menanti kejelasan mengenai besaran dan waktu berlaku subsidi terbaru. Situasi ini tentu saja menyulitkan para diler dalam mengelola stok dan merencanakan strategi pemasaran.

"Situasi kebijakan insentif kendaraan listrik di negeri ini sangat tidak stabil, berubah-ubah tanpa arah yang jelas," ungkap Moeldoko, menekankan bahwa hal ini berdampak langsung pada pergerakan pasar. Ia memaparkan, industri otomotif, baik produsen maupun distributor, memerlukan waktu yang cukup untuk menyesuaikan strategi bisnis dan rantai pasok produk mereka. Oleh karena itu, ia sangat berharap pemerintah dapat mengeluarkan kebijakan insentif secara bertahap dan terencana, bukan secara mendadak yang menimbulkan gejolak.

"Para diler saat ini terpaksa menahan diri karena penjualan produk melambat. Konsumen pun ikut menunggu, bertanya-tanya kapan subsidi pemerintah akan mulai berlaku dan berapa besarannya," jelas Moeldoko lebih lanjut. Ketiadaan kepastian regulasi ini juga berimplikasi pada kemampuan industri untuk merancang strategi jangka panjang. Alokasi distribusi kendaraan ke berbagai daerah, misalnya, sangat bergantung pada kejelasan aturan insentif yang akan diterapkan. Tanpa itu, perencanaan logistik menjadi rumit dan berisiko.

Moeldoko menegaskan bahwa regulasi yang dikeluarkan pemerintah seharusnya tidak bersifat sporadis. "Kebijakan seperti ini seyogianya tidak dikeluarkan secara tiba-tiba, mengingat dampaknya yang sangat besar terhadap kesiapan seluruh sektor industri," tegasnya. Ia berpendapat bahwa keberlanjutan dan prediktabilitas kebijakan adalah kunci bagi industri untuk dapat berinvestasi dan berkembang secara optimal.

Meskipun melayangkan kritik tajam terkait konsistensi kebijakan, Moeldoko tetap memberikan apresiasi atas upaya pemerintah yang telah mengalokasikan anggaran untuk subsidi kendaraan listrik. Ia mengakui bahwa bantuan tersebut sudah menyentuh berbagai segmen, mulai dari pengguna sepeda motor listrik, mobil listrik, hingga program konversi kendaraan bermesin konvensional menjadi listrik. Upaya pemerintah dalam memberikan stimulus ini, menurutnya, patut diapresiasi sebagai langkah awal yang positif.

Lebih jauh, Moeldoko menyoroti manfaat multifaset yang ditawarkan oleh penggunaan kendaraan listrik. Ia mengklaim bahwa beralih ke moda transportasi berbasis setrum ini memberikan tiga keuntungan sekaligus. Pertama, efisiensi anggaran pribadi bagi pemilik kendaraan. Kedua, pengurangan beban subsidi bahan bakar minyak (BBM) yang ditanggung oleh negara. Dan ketiga, kontribusi signifikan terhadap perbaikan kualitas lingkungan.

"Jika masyarakat beralih menggunakan kendaraan listrik, maka akan ada tiga kontribusi besar yang dihasilkan. Pertama, penghematan anggaran pribadi. Kedua, lingkungan yang semakin bersih. Dan ketiga, berkurangnya beban subsidi negara untuk BBM," papar Moeldoko. Ia menambahkan bahwa dampak positif ini tidak hanya dirasakan pada aspek ekonomi dan lingkungan saat ini, tetapi juga akan memberikan warisan berharga bagi generasi mendatang.

Moeldoko meyakini bahwa dengan berkurangnya emisi gas buang kendaraan, sektor kesehatan masyarakat di masa depan akan mengalami peningkatan. Lingkungan yang lebih sehat, yang bebas dari polusi udara akibat kendaraan bermotor, akan menjadi legasi terbaik yang dapat diserahkan kepada anak cucu. "Lingkungan yang bersih akan berdampak positif pada kesehatan anak cucu kita. Ini adalah warisan yang sangat berharga yang kita tinggalkan untuk masa depan," ujarnya.

Untuk mendorong percepatan adopsi kendaraan listrik di Tanah Air, Moeldoko menekankan pentingnya konsistensi regulasi di masa mendatang. Ia berharap pemerintah dapat menjaga stabilitas kebijakan agar pelaku usaha dan masyarakat luas merasa aman dan yakin untuk berinvestasi serta beralih ke kendaraan listrik. Kepastian regulasi menjadi jangkar fundamental yang akan memberikan kepercayaan diri bagi seluruh ekosistem industri EV nasional untuk terus tumbuh dan berkembang. Dengan adanya kepastian, industri dapat merencanakan produksi, distribusi, dan pengembangan teknologi secara lebih terarah, yang pada akhirnya akan mempercepat terwujudnya target Indonesia sebagai pemain utama dalam industri kendaraan listrik global.

Also Read

Tags