Denyut Ekonomi Jalanan: Seniman Cat Duco di Tepian Jakarta

Sutrisno Wibowo

Di tengah hiruk pikuk Jalan Salemba Raya, Jakarta Pusat, denyut kehidupan ekonomi informal bergulir. Para pria berjejer di tepi jalan, tatapan mereka tertuju pada deru kendaraan yang melintas. Sebagian menawarkan jasa dengan lambaian tangan, sebagian lagi menanti panggilan di bawah naungan pohon. Di belakang mereka, papan-papan mencolok bertuliskan "CAT DUCO MOBIL MOTOR", "LAS KETOK", dan "BARET & PENYOK" menjadi penanda khas. Ini bukan sekadar pemandangan pinggir jalan, melainkan potret ketangguhan jasa cat duco informal yang terus bertahan di ibu kota, bersaing dengan bengkel modern dan kebijakan penertiban. Fenomena serupa juga menghiasi kawasan Matraman, Salemba, hingga Kramat Raya, menunjukkan betapa kuatnya sektor ini dalam denyut ekonomi Jakarta.

Suasana di lokasi terasa hidup sejak siang hari. Klakson kendaraan beradu dengan suara gerinda dan ketukan logam yang menjadi latar belakang perbaikan bodi mobil. Aroma cat, thinner, dan asap kendaraan bercampur menciptakan ciri khas tersendiri. Para pekerja, seringkali dengan rompi usang, dengan sigap menawarkan keahlian mereka kepada pengendara yang melintas. Peralatan sederhana seperti amplas, kuas, kaleng cat, dan kompresor mini tersimpan rapi di sudut trotoar atau di bawah pohon.

Meskipun beroperasi di tepi jalan, proses pengecatan sesungguhnya dilakukan di bengkel-bengkel kecil yang tersebar di gang-gang permukiman sekitar. Luhur, seorang pekerja jasa cat duco di Salemba, menjelaskan bahwa setelah kesepakatan tercapai, kendaraan akan dibawa ke bengkel untuk dikerjakan. Ia sendiri telah berkecimpung di dunia ini hampir sepuluh tahun, berawal dari membantu temannya di bengkel sebelum akhirnya turut mencari pelanggan di jalan. Awalnya hanya bertugas mengamplas dan mendempul, Luhur perlahan belajar teknik penyemprotan cat hingga akhirnya mampu merangkap sebagai pencari pelanggan.

Sistem kerja di jasa cat duco umumnya terbagi dua: sebagian pekerja fokus mencari pelanggan di jalan, sementara yang lain bergiat di bengkel. Luhur memulai harinya sejak pukul enam pagi hingga sore, namun penghasilannya tidak selalu stabil. Terkadang ia bisa mendapatkan dua hingga tiga pelanggan dalam sehari, namun tak jarang pula seminggu penuh tanpa ada pekerjaan. Tarif untuk perbaikan baret ringan berkisar antara Rp 500.000 hingga Rp 700.000 per panel. Sementara untuk perbaikan penyok dan pengecatan ulang, biayanya bisa mencapai Rp 1 juta hingga Rp 2 juta, tergantung tingkat keparahan kerusakan. Pengecatan seluruh bodi kendaraan tentu memiliki hitungan tarif yang berbeda. Namun, kebanyakan pelanggan datang karena mencari solusi yang lebih terjangkau dan cepat.

Fenomena jasa cat duco pinggir jalan ini bukanlah hal baru di Jakarta. Maman, seorang pekerja di kawasan Salemba Raya, menuturkan bahwa profesi ini sudah ada sejak beberapa dekade lalu, bahkan semakin banyak orang yang menekuninya pasca krisis ekonomi tahun 1998. Maman sendiri telah menekuni profesi ini sejak tahun 1996, ia belajar secara otodidak langsung dari bengkel, mulai dari mengamplas, mendempul, hingga teknik pengecatan. Ia bahkan pernah bekerja di bengkel resmi merek otomotif ternama.

Berbeda dengan bengkel resmi yang memiliki struktur perusahaan, sistem kerja di lapangan ini cenderung lebih kolektif. Namun, menjamurnya jasa serupa membuat persaingan kian ketat. Di satu ruas jalan, bisa ditemukan lebih dari sepuluh pencari pelanggan dari bengkel yang berbeda. Pengalaman ini juga dirasakan oleh Rony, seorang pencari pelanggan di Matraman, Jakarta Timur, yang telah mengikuti jejak orang tuanya sejak usia 13 tahun. Ia seringkali merasa jumlah mobil yang membutuhkan perbaikan tidak sebanding dengan banyaknya orang yang mencari pelanggan. Asep, yang telah 26 tahun mencari pelanggan jasa cat mobil pinggir jalan, juga merasakan hal yang sama; dulu jumlahnya belum seramai sekarang.

Asep memilih jalur ini karena keterbatasan modal untuk membuka bengkel sendiri. Ia bekerja sama dengan bengkel-bengkel kecil di Jakarta Pusat, dan mendapatkan komisi dari setiap kendaraan yang berhasil ia arahkan. Komisi yang diterima pencari pelanggan berkisar antara Rp 100.000 hingga Rp 300.000 per kendaraan, tergantung jenis pekerjaan.

Pengamat otomotif, Bebin Djuana, menilai jasa cat duco pinggir jalan telah lama menjadi alternatif perbaikan kendaraan bagi masyarakat. Umumnya, layanan ini dimanfaatkan oleh pemilik kendaraan yang tidak memiliki perlindungan asuransi atau sopir yang ingin menghindari biaya perbaikan yang mahal akibat kerusakan kecil. Keunggulan utama jasa informal ini adalah kecepatan pengerjaan dan harga yang lebih terjangkau. Namun, konsekuensinya adalah kualitas hasil pengerjaan yang tidak selalu tahan lama. Meskipun demikian, Bebin mengakui bahwa banyak pekerja di sektor ini memiliki keterampilan teknis yang baik karena pengalaman bertahun-tahun di lapangan atau bahkan pernah bekerja di bengkel profesional. Keterampilan mereka terkadang terbentur oleh keterbatasan modal untuk mendapatkan hasil yang optimal. Selain itu, permintaan konsumen yang menekan biaya perbaikan hingga memaksa penggunaan material berkualitas rendah juga turut memengaruhi kualitas akhir pekerjaan.

Dari sudut pandang ekonomi, Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Indef, M Rizal Taufikurahman, menjelaskan bahwa pertumbuhan jasa ini dipengaruhi oleh kombinasi permintaan pasar yang besar dan tekanan ekonomi masyarakat. Jakarta memiliki populasi kendaraan yang sangat besar, sehingga kebutuhan akan perbaikan bodi dan kosmetik kendaraan pun tinggi. Kelas menengah ke bawah cenderung mencari layanan yang lebih ekonomis dan fleksibel dibandingkan bengkel resmi. Dalam kondisi daya beli yang tertekan, prioritas beralih ke hasil yang "cukup rapi dan murah" daripada "sempurna tetapi mahal". Fenomena ini juga mencerminkan besarnya sektor informal di Jakarta, di mana sektor formal belum mampu menyerap seluruh tenaga kerja. Data menunjukkan bahwa pekerja informal di Jakarta mencapai sekitar 38,13 persen dari total penduduk yang bekerja. Rizal menyarankan pendekatan penataan dan pembinaan, bukan sekadar penertiban. Ia mengusulkan pembentukan zona usaha otomotif informal, pelatihan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3), akses Kredit Usaha Rakyat (KUR) mikro, dan kemitraan dengan bengkel formal.

Sosiolog Universitas Negeri Jakarta, Rakhmat Hidayat, melihat fenomena ini sebagai strategi bertahan hidup masyarakat urban di tengah keterbatasan lapangan kerja formal. Kota besar seperti Jakarta menjadi magnet bagi arus migrasi, kebutuhan ekonomi, dan keterbatasan akses ke pekerjaan formal. Jasa cat duco pinggir jalan merupakan bagian dari ekonomi informal perkotaan yang menawarkan fleksibilitas, biaya rendah, dan kemudahan akses. Banyak pekerja memiliki keterampilan teknis yang mumpuni namun terhalang oleh modal, sertifikasi, atau akses ke industri formal. Rakhmat mengklasifikasikan para pekerja ini sebagai "prekariat urban", kelompok yang hidup dalam ketidakpastian ekonomi. Hal ini juga terkait dengan budaya konsumsi di mana kendaraan seringkali menjadi simbol status sosial. Tidak semua orang mampu mengakses bengkel premium, sehingga jasa cat duco ini menemukan pasarnya.

Keberadaan jasa cat duco di trotoar dan bahu jalan seringkali berbenturan dengan aturan ketertiban umum, sehingga menjadi sasaran penertiban petugas. Juru Bicara Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta menyatakan bahwa kegiatan tersebut umumnya tidak sesuai ketentuan dan perlu ditindak. Kepala Satpol PP Jakarta Pusat mengakui bahwa penertiban rutin dilakukan, namun seringkali seperti "kucing-kucingan" karena para pekerja kembali lagi setelah situasi dianggap aman. Ia menekankan bahwa penertiban saja tidak cukup; diperlukan kolaborasi untuk menampung mereka agar dapat mencari nafkah di tempat yang semestinya.

Also Read

Tags