Arsenal berhasil mengukuhkan diri sebagai juara Liga Inggris musim 2025/2026. Kepastian gelar ini diraih pada Rabu (20/5/2026) dini hari WIB, menyusul hasil imbang antara Manchester City dan Bournemouth dengan skor 1-1. Kemenangan krusial ini memastikan bahwa perolehan poin The Gunners tidak dapat lagi dikejar oleh tim mana pun, bahkan dengan sisa satu pertandingan. Sebagian besar skuad Arsenal, yang kini dipimpin oleh Declan Rice, merayakan momen bersejarah ini bersama-sama di fasilitas latihan klub, sebuah tradisi yang lazim dilakukan ketika sebuah tim memastikan gelar juara.
Namun, di tengah euforia tim, manajer Mikel Arteta justru membuat keputusan yang mengejutkan banyak pihak. Pelatih asal Spanyol ini memilih untuk tidak bergabung dalam perayaan bersama para pemainnya di kompleks latihan. Keputusan tersebut diambil sesaat sebelum pertandingan penentu antara Manchester City dan Bournemouth berakhir. Arteta mengaku bahwa ia merasa energinya tidak lagi mampu mendukung suasana perayaan yang semarak di tengah para pemainnya. Ia menyatakan bahwa ia seharusnya hadir di sana, sesuai dengan keinginan para pemain dan staf yang lain. Namun, sekitar dua puluh menit sebelum laga tersebut usai, ia merasa harus meninggalkan tempat itu karena tidak dapat menyalurkan energi yang diharapkan.
Arteta menekankan bahwa momen perayaan tersebut adalah milik para pemain sepenuhnya. Ia ingin memberikan ruang dan kebebasan bagi skuadnya untuk menikmati pencapaian besar ini tanpa kehadiran dirinya yang mungkin akan mengubah dinamika perayaan. Ia percaya bahwa inilah saat yang tepat bagi para pemain untuk berkumpul, menyaksikan hasil pertandingan yang menentukan nasib mereka, dan merayakan keberhasilan mereka secara kolektif. Sebagai mantan asisten pelatih di Manchester City, Arteta tentu memahami betul bagaimana rasanya berada di posisi ini, dan ia memilih untuk memberi kesempatan bagi anak asuhnya untuk merasakan puncak kebahagiaan ini tanpa dibayangi oleh kehadirannya.
Berbeda dengan perayaan meriah di pusat latihan, Arteta memilih untuk merayakan momen bersejarah ini di lingkungan yang lebih privat, yaitu di kediamannya bersama keluarga tercinta. Ia bahkan mengetahui bahwa Arsenal telah resmi menjadi juara Premier League melalui kabar yang disampaikan oleh putra sulungnya. Momen tersebut digambarkan dengan penuh haru dan kebahagiaan. Sang anak, dengan penuh kegembiraan, membuka pintu kebun, berlari menghampiri ayahnya, dan memeluknya sambil menangis bahagia seraya berkata, "Kita juara, Ayah." Tak lama kemudian, kedua putra Arteta yang lain beserta sang istri turut bergabung dalam pelukan hangat tersebut. Arteta mengungkapkan betapa indahnya melihat sorak-sorai dan kebahagiaan terpancar dari wajah keluarganya, yang selama ini selalu memberikan dukungan tak terhingga dalam perjalanan kariernya.
Pencapaian trofi Premier League musim ini menjadi penutup penantian panjang bagi Mikel Arteta. Setelah enam tahun memimpin klub asal London Utara ini, ia akhirnya berhasil mengantarkan Arsenal meraih gelar juara liga domestik yang paling prestisius. Dalam beberapa musim sebelumnya, The Gunners di bawah komandonya kerap kali harus puas berada di posisi runner-up di pengujung kompetisi. Perjuangan keras, strategi matang, dan dedikasi yang tinggi dari seluruh elemen tim, termasuk sang pelatih, akhirnya membuahkan hasil manis. Gelar juara ini bukan hanya sekadar trofi, tetapi juga bukti nyata dari transformasi yang berhasil dilakukan oleh Arteta di Arsenal.
Perjalanan Arsenal di bawah asuhan Arteta memang patut diapresiasi. Sejak mengambil alih kemudi pada Desember 2019, ia telah berhasil membangun kembali identitas dan mentalitas juara bagi klub. Dimulai dari upaya membangun kembali fondasi tim, merekrut pemain-pemain berkualitas, hingga menanamkan filosofi permainan yang agresif dan menghibur. Musim 2025/2026 ini menjadi puncak dari kerja keras tersebut.
Keputusan Arteta untuk melewatkan perayaan tim di kompleks latihan, meskipun terkesan kontroversial bagi sebagian orang, justru menunjukkan kedalaman pemahamannya tentang pentingnya momen pribadi dan keluarga. Ia menyadari bahwa di balik setiap kesuksesan seorang individu, terutama seorang pelatih, terdapat peran besar dari orang-orang terdekat yang selalu memberikan dukungan tanpa syarat. Momen perayaan bersama keluarga memberikan energi dan semangat baru baginya untuk melanjutkan perjalanan yang lebih menantang di masa depan.
Kisah ini juga menyoroti sisi lain dari seorang Mikel Arteta yang tidak hanya dikenal sebagai pelatih yang cerdas dan strategis, tetapi juga sebagai seorang ayah dan suami yang peduli. Keinginannya untuk berbagi kebahagiaan terpenting dalam kariernya bersama keluarga menunjukkan betapa berharganya ikatan keluarga baginya. Hal ini bisa menjadi inspirasi bagi banyak orang, bahwa di tengah kesibukan dan tuntutan profesional yang tinggi, tidak boleh melupakan momen-momen berharga bersama orang-orang tercinta.
Keberhasilan Arsenal meraih gelar Premier League musim ini menandai era baru bagi klub. Setelah bertahun-tahun berjuang untuk kembali ke puncak, mereka kini telah membuktikan diri sebagai tim yang layak diperhitungkan. Peran Mikel Arteta dalam transformasi ini tidak dapat disangkal. Ia telah menanamkan budaya kerja keras, disiplin, dan keyakinan pada para pemainnya.
Keputusan Arteta untuk merayakan gelar juara secara intim bersama keluarga juga memberikan pelajaran berharga tentang keseimbangan antara kehidupan profesional dan pribadi. Ia menunjukkan bahwa kesuksesan dalam karier tidak harus mengorbankan kebahagiaan dalam keluarga. Sebaliknya, dukungan dan kebahagiaan keluarga justru dapat menjadi sumber kekuatan dan motivasi yang tak ternilai. Dengan demikian, perayaan juara Arsenal musim ini tidak hanya menjadi momen kebahagiaan bagi para pemain dan penggemar, tetapi juga menjadi pengingat akan pentingnya nilai-nilai keluarga dalam setiap pencapaian besar. Ini adalah bukti bahwa di balik setiap kemenangan gemilang, ada kisah personal yang penuh makna.






