Bitcoin, aset kripto terbesar di dunia, mengalami tekanan tajam akhir pekan lalu setelah meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Harga Bitcoin sempat anjlok di bawah level USD 64.000 setelah Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan militer ke Iran, memicu gelombang kekhawatiran di pasar aset berisiko tinggi.
Gejolak Geopolitik dan Dampaknya pada Pasar Kripto
Pada Sabtu (28/2/2026), berita mengenai serangan bersama oleh AS dan Israel terhadap sejumlah target di Iran menyebar luas di kalangan investor global. Ledakan besar dilaporkan di wilayah ibu kota Teheran dan situasi tersebut dengan cepat memperluas kekhawatiran akan eskalasi konflik yang lebih luas.
Reaksi pasar kripto pun langsung terasa. Bitcoin yang sebelumnya diperdagangkan di atas USD 66.000 turun drastis sekitar 3,8 % ke kisaran USD 63.038 sebelum sempat stabil kembali di dekat kisaran USD 64.000. Aset digital lain seperti Ether juga merosot — Ether turun sekitar 4,5 % ke level sekitar USD 1.836.
Menurut data pasar, aksi jual besar ini menghapus sekitar USD 128 miliar nilai total pasar kripto dalam waktu singkat setelah berita konflik tersebar.
Bitcoin Tidak Lagi “Safe Haven”
Sejak awal kemunculannya, beberapa pihak pernah memandang Bitcoin sebagai aset alternatif yang bisa berfungsi sebagai “safe haven”, mirip seperti emas pada masa ketidakpastian ekonomi. Namun dalam realitas terbaru, tekanan geopolitik justru menunjukkan Bitcoin lebih bereaksi layaknya aset berisiko (risk asset) yang sensitif terhadap sentimen pasar global.
Investors.com mencatat bahwa sejak Oktober 2025, Bitcoin telah mengalami penurunan signifikan dari puncaknya di atas USD 125.000, menunjukkan dinamika pasar yang kini lebih mengglobal dan terikat dengan pergerakan sentimen risiko di tingkat makro.
Fenomena ini terlihat jelas ketika ketegangan konflik membuat investor melakukan rotasi keluar dari aset berisiko, termasuk saham dan kripto, untuk mencari perlindungan di aset yang dianggap lebih stabil seperti emas dan obligasi.
Analisis dan Reaksi Pasar
Analis pasar mengatakan bahwa penurunan Bitcoin ini dipicu oleh perubahan langsung dalam persepsi risiko — terutama ketika berita konflik militer muncul pada hari Sabtu, di saat pasar tradisional seperti saham dan obligasi ditutup. Karena kripto diperdagangkan 24/7, volatilitas cenderung meningkat saat berita besar muncul di luar jam kerja pasar saham.
Beberapa ahli pasar percaya bahwa Bitcoin bertindak sebagai “katup tekanan” (pressure valve) bagi pasar finansial ketika peristiwa geopolitik besar terjadi, karena instrumen investasi lain tidak aktif pada akhir pekan.
Respons investor awalnya berupa aksi jual besar, namun beberapa likuiditas pun sempat kembali masuk ke pasar setelah Bitcoin mencapai titik terendahnya pada hari itu.
Reaksi terhadap Aset Digital Lainnya
Tidak hanya Bitcoin, altcoin lainnya juga ikut terguncang oleh gejolak ini. Ethereum, Solana, dan token lainnya tercatat tertekan mengikuti tren penurunan pasar kripto secara keseluruhan. Investor menjadi lebih berhati-hati untuk mempertahankan aset berisiko saat dinamika geopolitik tidak menentu.
Prospek dan Pandangan ke Depan
Meskipun penurunan ini mengejutkan sebagian investor, beberapa analis menyatakan bahwa pergerakan harga ini masih bagian dari siklus jangka pendek, di mana ketidakpastian geopolitik memaksa pasar bereaksi secara cepat dan tajam.
Pasar kripto tetap sangat dipengaruhi oleh sentimen, likuiditas, dan faktor global lain seperti kebijakan moneter, ekonomi makro, serta faktor geopolitik. Pemulihan harga jangka menengah hingga panjang tergantung pada bagaimana konflik berkembang dan reaksi investor terhadap risiko yang muncul.
Kesimpulan
Penurunan Bitcoin di bawah USD 64.000 bukan sekadar fluktuasi pasar biasa, tetapi bagian dari reaksi yang lebih luas terhadap ketidakpastian geopolitik setelah serangan militer AS dan Israel ke Iran. Aksi ini mengguncang pasar kripto dan menunjukkan bahwa Bitcoin, yang dahulu dianggap sebagai aset diversifikasi, masih sangat rentan terhadap perubahan sentimen global dan kondisi pasar makro.
Bagi investor kripto, periode volatil seperti ini menjadi momen untuk mengevaluasi strategi, memperhatikan risiko, dan bersiap menghadapi potensi pergerakan harga yang tajam di masa mendatang.





