Indonesia Siap Catat Sejarah Balap Sepeda: Bintan Jadi Arena Poin UCI Pertama

Emil Mulyadi

Perhelatan akbar balap sepeda internasional, Tour de Bintan, yang dijadwalkan bergulir pada 21 hingga 23 Agustus 2026 di destinasi wisata Lagoi Bay, Bintan Resorts, Provinsi Kepulauan Riau, akan mencetak tonggak sejarah baru bagi kancah balap sepeda nasional. Untuk pertama kalinya di tanah air, ajang ini akan menjadi arena perebutan poin resmi dari Union Cycliste Internationale (UCI), federasi balap sepeda dunia. Kehadiran kategori UCI 1.2 Point Race dalam nomor Gran Fondo Classic sejauh 150 kilometer menjadi daya tarik utama yang diprediksi akan mendongkrak pamor Tour de Bintan ke level yang lebih tinggi.

Keputusan untuk mengintegrasikan program Indonesia Cycling Federation (ICF) ini ke dalam kalender Tour de Bintan merupakan langkah strategis yang dirancang untuk meningkatkan kualitas dan daya saing kompetisi. Raja Azmizal Usman, Koordinator Utama Event, dalam sesi jumpa pers yang diadakan di kawasan Sudirman pada Kamis, 21 Mei 2026, memaparkan rincian mengenai format partisipasi tim dalam kategori bergengsi ini. Beliau menjelaskan bahwa partisipasi dalam nomor UCI 1.2 Point Race ini bersifat undangan, dan programnya merupakan kolaborasi antara ICF dengan penyelenggara Tour de Bintan.

"Formatnya adalah undangan, dan program ini kami padukan dengan Tour de Bintan sebagai bagian dari inisiatif Indonesia Cycling Federation," ujar Raja Azmizal. Beliau menambahkan bahwa panitia telah menyiapkan undangan khusus bagi sejumlah tim, baik dari dalam negeri maupun mancanegara, untuk unjuk gigi dan memperebutkan poin perdana yang akan dicatat di Indonesia. Rencananya, pada hari penutup kompetisi, yakni Minggu, 23 Agustus 2026, akan ada partisipasi dari tiga tim perwakilan Indonesia dan sembilan tim internasional. "Kami akan mengundang tiga tim lokal dan sembilan tim dari luar negeri untuk bertanding pada hari Minggu, tanggal 23 Agustus. Kategori UCI 1.2 ini memang didesain untuk mengumpulkan poin; siapa yang menang akan mendapatkan poin, dan ini merupakan kali pertama diselenggarakan di Indonesia," terangnya.

Lebih lanjut, Raja Azmizal mengungkapkan ambisi besar di balik penerapan balapan UCI 1.2 ini. Ia menargetkan agar Tour de Bintan dapat secara bertahap naik kelas menjadi bagian dari seri dunia balap sepeda di masa mendatang. Untuk mewujudkan target ambisius tersebut, penyelenggara memberikan jaminan bahwa seluruh standar keselamatan internasional yang ditetapkan oleh UCI akan diterapkan dengan sangat ketat selama jalannya perlombaan. "Kami patuh pada standar UCI. Akan ada seorang manajer keselamatan yang memastikan seluruh aspek keamanan terjaga dengan baik. Kami juga wajib menyediakan minimal dua unit Automated External Defibrillator (AED) yang dioperasikan oleh personel yang terlatih," tegasnya, menunjukkan komitmen penyelenggara terhadap aspek keselamatan peserta.

Tidak hanya nomor utama Gran Fondo Classic 150 km yang akan memperebutkan poin UCI, Tour de Bintan 2026 juga menyajikan beragam pilihan kategori lain yang dirancang untuk mengakomodasi berbagai tingkatan peserta. Empat kategori lain yang juga akan digelar pada 21 Agustus 2026 meliputi Gran Fondo Century dengan jarak 100 km, Gran Fondo Challenge sepanjang 70 km, Gran Fondo Discovery sejauh 45 km, serta nomor Individual Time Trial (ITT) dengan lintasan 17 km. Penyelenggara menargetkan partisipasi hingga 700 peserta untuk keseluruhan kategori ini.

Antusiasme dari luar negeri tampaknya sudah mulai terasa. Sejumlah tim balap sepeda internasional dilaporkan telah menyatakan minat dan melakukan pendaftaran untuk ambil bagian dalam gelaran tahun ini. Raja Azmizal memberikan contoh beberapa tim yang sudah mendaftar, seperti Matador dan Mavericks, yang berbasis di Singapura. Namun, ia mengklarifikasi bahwa kedua tim tersebut belum termasuk dalam level kompetisi UCI 1.2 Point Race. "Untuk tim mancanegara yang sudah terdaftar, ada tim Matador dan Mavericks, yang basisnya di Singapura. Namun, level mereka saat ini belum setara dengan peserta yang akan berkompetisi di nomor UCI 1.2 Point Race," jelasnya.

Kehadiran Tour de Bintan sebagai tuan rumah perebutan poin UCI pertama di Indonesia bukan hanya sekadar ajang kompetisi, melainkan juga sebuah momentum penting untuk membuktikan kapasitas Indonesia dalam menyelenggarakan event balap sepeda berskala internasional. Ini menjadi kesempatan emas bagi para pebalap lokal untuk mengukur kemampuan mereka dengan atlet-atlet kelas dunia, serta bagi Indonesia untuk semakin dikenal sebagai destinasi olahraga yang menarik. Persiapan matang dari segi infrastruktur, logistik, hingga aspek keselamatan menjadi kunci utama keberhasilan penyelenggaraan ini, yang diharapkan akan membuka pintu bagi ajang-ajang balap sepeda internasional lainnya di masa depan. Dengan target naik kelas ke seri dunia, Tour de Bintan 2026 menjadi lebih dari sekadar balapan, melainkan sebuah investasi jangka panjang untuk kemajuan olahraga balap sepeda di Indonesia.

Also Read

Tags