Bukan Hutan Saja, Oksigen Manusia Juga Bergantung pada Organisme Laut

Sahrul

Selama ini, hutan kerap dijuluki sebagai paru-paru dunia karena kemampuannya menghasilkan oksigen melalui proses Fotosintesis. Namun, pandangan tersebut ternyata belum sepenuhnya menggambarkan kondisi sebenarnya. Para ilmuwan menegaskan bahwa lautan justru memegang peran yang jauh lebih besar dalam menyuplai oksigen bagi kehidupan di Bumi.

Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar oksigen yang kita hirup tidak berasal dari hutan, melainkan dari organisme laut yang berukuran sangat kecil namun jumlahnya melimpah.

Fitoplankton, Pahlawan Tak Terlihat

Organisme utama yang berperan besar dalam produksi oksigen laut adalah fitoplankton. Dalam kajian Biologi Kelautan, fitoplankton dikenal sebagai mikroorganisme yang hidup melayang di permukaan laut dan mampu melakukan fotosintesis layaknya tumbuhan darat.

Meski ukurannya mikroskopis, fitoplankton memiliki populasi yang sangat besar dan tersebar di hampir seluruh perairan dunia. Mereka memanfaatkan sinar matahari, karbon dioksida, dan nutrisi laut untuk menghasilkan energi sekaligus melepaskan oksigen ke atmosfer.

Para ahli memperkirakan sekitar 50 hingga 70 persen oksigen di Bumi berasal dari aktivitas organisme laut ini. Artinya, setiap dua tarikan napas manusia, satu di antaranya kemungkinan besar dihasilkan oleh laut.

Peran Organisme Laut Lainnya

Selain fitoplankton, organisme lain seperti alga dan cyanobacteria juga turut berkontribusi dalam produksi oksigen. Cyanobacteria bahkan disebut sebagai salah satu makhluk hidup tertua yang pernah mengubah atmosfer Bumi menjadi kaya oksigen miliaran tahun lalu.

Proses yang mereka lakukan tetap sama, yakni melalui fotosintesis yang menghasilkan oksigen sebagai produk sampingan. Keberadaan mereka menjaga keseimbangan gas di atmosfer sekaligus mendukung keberlangsungan ekosistem laut dan darat.

Tanpa kontribusi organisme-organisme ini, kadar oksigen di atmosfer tidak akan cukup untuk menopang kehidupan manusia dan makhluk hidup lainnya.

Ancaman Nyata dari Perubahan Iklim

Meski perannya sangat vital, ekosistem laut kini menghadapi tekanan besar akibat perubahan iklim dan aktivitas manusia. Peningkatan suhu laut, polusi, serta perubahan kimia air laut dapat mengganggu kehidupan fitoplankton.

Kondisi ini berpotensi menurunkan kemampuan laut dalam menghasilkan oksigen. Jika dibiarkan, dampaknya tidak hanya dirasakan oleh ekosistem laut, tetapi juga oleh manusia secara global.

Selain itu, pencemaran laut akibat limbah plastik dan bahan kimia juga dapat merusak habitat organisme kecil yang berperan penting dalam rantai kehidupan ini.

Laut dan Masa Depan Kehidupan Manusia

Fakta bahwa sebagian besar oksigen berasal dari laut menjadi pengingat penting bahwa menjaga ekosistem laut sama pentingnya dengan melestarikan hutan. Keduanya saling melengkapi dalam menjaga keseimbangan lingkungan global.

Upaya seperti mengurangi polusi, membatasi emisi karbon, serta mendukung konservasi laut menjadi langkah penting untuk menjaga keberlanjutan sumber oksigen alami ini.

Kesadaran masyarakat terhadap peran laut perlu terus ditingkatkan, mengingat kontribusinya yang besar namun sering kali tidak terlihat secara langsung.

Menjaga yang Tak Terlihat, Menjaga Kehidupan

Organisme laut mungkin tidak terlihat oleh mata, namun perannya sangat besar dalam menopang kehidupan manusia. Tanpa mereka, kualitas udara yang kita hirup setiap hari bisa saja berubah drastis.

Dengan memahami fakta ini, menjaga laut bukan lagi sekadar pilihan, melainkan kebutuhan. Karena pada akhirnya, keberlangsungan hidup manusia juga sangat bergantung pada keseimbangan ekosistem laut.

Also Read

Tags