Ribuan Karyawan Nike Kena PHK, Ini Kondisi Terbaru Perusahaan

Sahrul

Perusahaan apparel olahraga raksasa Nike kembali melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) dalam jumlah besar. Kali ini, sekitar 1.400 karyawan dilaporkan terdampak dalam gelombang PHK terbaru yang menyasar berbagai divisi perusahaan di sejumlah negara.

Langkah tersebut menjadi bagian dari strategi restrukturisasi besar yang sedang dilakukan Nike di tengah tekanan bisnis dan persaingan industri olahraga global yang semakin ketat. PHK terbaru ini juga disebut sebagai kelanjutan dari program transformasi perusahaan yang sudah berjalan sejak beberapa tahun terakhir.

Dilansir dari situs kitaswara.com, kondisi Nike saat ini memang tengah menjadi sorotan setelah performa bisnis perusahaan dinilai mengalami perlambatan cukup signifikan dibanding masa kejayaannya beberapa tahun lalu.

Sekitar 1.400 Karyawan Terdampak

Berdasarkan laporan sejumlah media internasional, PHK kali ini terutama berdampak pada tim Global Operations dan divisi teknologi Nike. Pengurangan tenaga kerja terjadi di wilayah Amerika Utara, Asia, dan Eropa.

Chief Operating Officer Nike, Venkatesh Alagirisamy, dalam memo internal perusahaan menyebut langkah ini merupakan bagian dari upaya membangun organisasi yang lebih ramping, cepat, dan efisien.

Ia menegaskan bahwa kebijakan tersebut bukan perubahan arah baru, melainkan fase lanjutan dari strategi transformasi perusahaan yang telah berjalan sebelumnya.

Divisi Teknologi Jadi Fokus Restrukturisasi

Sebagian besar PHK dilaporkan terjadi di sektor teknologi. Nike disebut ingin menyederhanakan struktur organisasi sekaligus memusatkan operasional teknologi mereka hanya di beberapa pusat utama.

Perusahaan juga sedang melakukan modernisasi sistem produksi, otomatisasi distribusi, dan efisiensi supply chain untuk mempercepat pengembangan produk baru.

Selain itu, Nike disebut tengah mengintegrasikan sejumlah sistem operasional agar proses bisnis menjadi lebih sederhana dan cepat beradaptasi dengan perubahan pasar.

Nike Tengah Hadapi Tekanan Persaingan

Kondisi Nike saat ini memang tidak mudah. Dalam beberapa tahun terakhir, perusahaan menghadapi tekanan besar dari kompetitor baru di industri sepatu dan apparel olahraga.

Merek seperti On, Hoka, hingga Anta mulai mencuri perhatian pasar global dengan pertumbuhan yang cukup agresif. Sementara itu, Nike dinilai sempat kehilangan momentum inovasi produk di beberapa kategori utama.

Akibat kondisi tersebut, nilai saham Nike disebut sudah turun lebih dari 50 persen dalam tiga tahun terakhir. Penjualan perusahaan juga diperkirakan masih mengalami penurunan di beberapa wilayah penting seperti China.

Bukan Gelombang PHK Pertama

Gelombang PHK terbaru ini bukan pertama kalinya dilakukan Nike. Pada Januari 2026 lalu, perusahaan juga memangkas sekitar 775 pekerjaan di pusat distribusi mereka sebagai bagian dari percepatan otomatisasi sistem kerja.

Sebelumnya pada 2024, Nike juga sempat melakukan pengurangan ribuan posisi karyawan dalam program efisiensi perusahaan.

CEO Nike, Elliott Hill, kini sedang menjalankan strategi turnaround untuk mengembalikan performa bisnis perusahaan. Fokus utama perusahaan diarahkan kembali pada olahraga inti seperti running dan sepak bola sambil mempercepat inovasi produk baru.

Penjualan Nike Masih Belum Stabil

Meski tetap menjadi salah satu brand olahraga terbesar di dunia, kondisi bisnis Nike saat ini dinilai belum sepenuhnya pulih.

Perusahaan bahkan memperkirakan penjualan kuartalan mereka masih akan mengalami penurunan sekitar 2 hingga 4 persen. Pasar China yang sebelumnya menjadi salah satu penyumbang besar penjualan juga diprediksi turun cukup tajam.

Beberapa analis menilai Nike masih membutuhkan waktu untuk memperbaiki performa bisnis dan memperkuat daya saing di tengah perubahan tren industri olahraga global.

Efisiensi Jadi Tren Banyak Perusahaan Besar

Fenomena PHK besar-besaran sebenarnya tidak hanya terjadi di Nike. Banyak perusahaan global kini mulai melakukan efisiensi tenaga kerja karena tekanan ekonomi, otomatisasi, hingga perkembangan teknologi AI.

Perusahaan besar seperti Amazon, Meta, Oracle, hingga Dell juga dilaporkan melakukan restrukturisasi dan pengurangan jumlah karyawan dalam beberapa waktu terakhir.

Kondisi ini membuat banyak pekerja mulai menghadapi tantangan baru di dunia kerja, terutama dalam sektor teknologi dan operasional digital.

Nike Optimistis Bisa Bangkit

Meski menghadapi tekanan bisnis dan gelombang PHK, Nike tetap optimistis dapat memperbaiki kondisi perusahaan dalam jangka panjang.

Manajemen menyebut restrukturisasi ini dilakukan agar perusahaan bisa bergerak lebih cepat, efisien, dan fokus menghadapi persaingan industri olahraga global yang terus berubah.

Banyak pengamat menilai langkah efisiensi tersebut memang berat, namun dianggap menjadi bagian dari strategi perusahaan besar untuk bertahan dan kembali tumbuh di tengah kondisi pasar yang semakin kompetitif.

Also Read

Tags