Fenomena “Musim Radang Tenggorokan” Setelah Lebaran, Ini Penjelasannya

Sahrul

Setiap pasca-Lebaran, banyak masyarakat mengeluhkan sakit tenggorokan, suara serak, dan rasa perih saat menelan. Fenomena ini sering disebut sebagai “musim radang tenggorokan”, terutama terjadi pada minggu pertama setelah libur panjang. Tidak hanya menjadi perbincangan di media sosial, sejumlah fasilitas kesehatan juga mencatat kenaikan pasien dengan keluhan serupa.

Pakar kesehatan menjelaskan bahwa kondisi ini tidak sepenuhnya mengejutkan. “Setelah libur panjang, pola makan, kurang tidur, dan interaksi sosial yang padat bisa meningkatkan risiko infeksi saluran pernapasan, termasuk radang tenggorokan,” ujar dr. Fitriani, dokter umum dari RSUP Jakarta.

Pola Makan dan Gaya Hidup Selama Lebaran Jadi Pemicu

Salah satu faktor utama lonjakan radang tenggorokan adalah perubahan pola makan saat Lebaran. Konsumsi makanan tinggi lemak, bersantan, manis, dan minuman dingin meningkat drastis. Kombinasi ini bisa menyebabkan iritasi pada tenggorokan, terutama jika dikonsumsi berlebihan.

Selain itu, kurang tidur, perjalanan mudik jauh, dan paparan polusi saat berkendara juga menurunkan daya tahan tubuh. Tubuh yang lebih rentan ini membuat infeksi virus atau bakteri lebih mudah menyerang.

“Tidak sedikit kasus radang tenggorokan pasca-Lebaran sebenarnya merupakan bagian dari infeksi saluran pernapasan atas (ISPA),” tambah dr. Fitriani.

Risiko Penularan Selama Silaturahmi

Interaksi sosial saat Lebaran, seperti kunjungan keluarga, kumpul bersama, dan tradisi berbagi makanan, meningkatkan risiko penularan penyakit. Kontak langsung dengan orang yang sedang flu atau batuk memudahkan virus untuk menyebar, terutama di ruang tertutup atau saat jarak dekat.

Praktik sederhana seperti berbagi alat makan atau gelas juga bisa menjadi medium penularan. Inilah salah satu alasan mengapa banyak orang baru merasakan gejala setelah beberapa hari Lebaran.

Gejala yang Harus Diwaspadai

Radang tenggorokan sering muncul dengan gejala ringan, tetapi tetap mengganggu aktivitas. Beberapa tanda umum antara lain:

  • Nyeri atau perih saat menelan
  • Tenggorokan kering atau gatal
  • Suara serak atau hilang sementara
  • Batuk ringan
  • Demam ringan pada beberapa kasus

Jika gejala berlangsung lebih dari tiga hari atau disertai demam tinggi, sebaiknya segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan. Hal ini untuk memastikan tidak ada komplikasi atau infeksi yang lebih serius.

Cara Mencegah dan Mengatasi Radang Tenggorokan

Beberapa langkah sederhana bisa dilakukan untuk mencegah radang tenggorokan pasca-Lebaran:

  • Kembali ke pola makan sehat, hindari makanan terlalu berminyak atau bersantan berlebihan
  • Perbanyak minum air putih
  • Konsumsi buah dan sayur untuk vitamin tambahan
  • Istirahat cukup untuk memulihkan daya tahan tubuh
  • Menjaga kebersihan tangan dan menggunakan masker jika sedang sakit

Jika sudah mengalami gejala ringan, beberapa cara meredakan termasuk:

  • Minum air hangat atau teh herbal
  • Mengonsumsi madu
  • Menggunakan obat pereda nyeri atau obat kumur antiseptik sesuai anjuran dokter

Fenomena Musiman yang Normal, Namun Tetap Waspada

Meskipun disebut “musim radang tenggorokan” pasca-Lebaran, kondisi ini termasuk fenomena normal yang dipicu kombinasi faktor gaya hidup, pola makan, dan interaksi sosial. Dengan langkah pencegahan sederhana, risiko dan gejala dapat diminimalkan.

“Tidak perlu panik, tapi tetap waspada. Jaga kesehatan, makan bergizi, dan cukup istirahat agar tubuh lebih tangguh menghadapi perubahan lingkungan dan pola hidup setelah libur panjang,” tutup dr. Fitriani.

Also Read

Tags